Ketika kata tak lagi bisa bicara …..

Posted May 6, 2012 by Sigit Suryono
Categories: Nyanyian jiwa

Tags: , ,

Serumpun rumput ilalang bergoyang diterpa angin, angin sepoi-sepoi berdesir membawa butiran-butiran air, riak-riak air telaga bergerak lembut menyisir kaki-kaki pohon bakau. Awan tipis bergelayut menyambut senja.

Seorang nampak duduk termenung diatas bongkahan batu kali, terlihat diam, membisu seribu bahasa. Namun dari raut wajahnya terlihat begitu tenang, dengan sepasang mata terpejam, dengan postur duduk yang begitu santai, dengan jari-jari tangan saling bertautan, meski mata terpejam, nampak sesungging senyum simpul membesut pipinya yang kusut.

Sebuah keceriaan baru telah lahir…..

Ditengah-tengah kesendiriannya, diantara pepohonan dan riak air telaga yang sepi, diantara bongkahan batu kali, dan gemericik air sungai yang mengalir, diantara kelembutan desiran angin yang menyapa nampak ia begitu larut dalam kesendiriannya, nampak ia begitu hening dalam duduk diamnya, sesekali nampak kepalanya mengangguk-angguk, seperti ada sesuatu yang sangat dalam menyerap setiap bulir dari kesadarannya. Read the rest of this post »

Menarik Lagu Jiwa dari Jantung Semesta

Posted May 5, 2012 by Sigit Suryono
Categories: Nyanyian jiwa

Tags: , ,

Setiap dari kita di sini untuk menemukan diri sejati kita, bahwa pada dasarnya kita  adalah makhluk spiritual yang telah mengambil manifestasi dalam bentuk fisik, bahwa kita bukan manusia yang memiliki pengalaman spiritual sesekali, bahwa kita makhluk spiritual yang memiliki pengalaman manusia sesekali.  ~ Deepak Chopra

Jangan mencoba untuk mengarahkan sungai, karena keindahan tampak dari jalurnya yang berliku. Setiap kali seseorang tergoda untuk selalu bereaksi dengan cara lama yang sama, menanyakan apakah ia ingin menjadi tawanan masa lalu atau pelopor masa depan.

Jika seseorang dapat hidup dari tingkat jiwanya yang terdalam, ia mampu melakukan sesuatu yang sangat khusus dalam kekiniannya. Terutama bagi keberadaan sejati dirinya, untuk bagaimana mengekspresikan dirinya, menjadi lampu yang bersinar melalui jendela keabadian. Read the rest of this post »

Belajar Dari Sebuah Pohon

Posted May 3, 2012 by Sigit Suryono
Categories: Intermezzo

Tags: , ,

Setiap orang hanya memiliki satu panggilan asli ~ untuk menemukan cara yang paling sesuai untuk dirinya sendiri. Tugasnya adalah untuk menemukan takdirnya sendiri ~ karena hidup itu selalu penuh dan tegas dalam dirinya. Segala sesuatu yang lain hanyalah calon-calon benih bagi keberadaan. Saya hanya ingin hidup sesuai dengan bisikan yang datang dari diri saya yang sebenarnya.

Bagi saya, pohon selalu menjadi pengkhotbah paling tajam. Saya menghormati mereka ketika mereka hidup dalam suku-suku dan keluarga, di hutan dan kebun. Dan yang lebih saya hormati ketika mereka berdiri sendiri. Mereka seperti orang kesepian. Tidak seperti pertapa yang larut dari beberapa kelemahannya. Dalam dahan tertinggi mereka adalah puncak dari dunia, sisanya berakar pada kedalaman tak terhingga, tetapi mereka tidak kehilangan diri mereka sendiri di sana, mereka berjuang dengan segala kekuatan hidup mereka untuk satu hal saja: untuk memenuhi sendiri sesuai dengan hukum mereka sendiri, untuk membangun dan membentuk diri mereka sendiri, untuk mewakili diri mereka sendiri. Tidak ada yang suci, tidak ada yang lebih patut dicontoh lebih dari pohon, cantik kuat dan meneduhkan. Read the rest of this post »

Dasar-dasar sadhana bagi pembersihan pikiran

Posted May 2, 2012 by Sigit Suryono
Categories: Rumah Dharma

Tags: ,

Manas atau pikiran menduduki posisi sentral bagi esensi keberadaan para mahluk. Karena bagi manusia dan mahluk-mahluk lainnya, manas [pikiran]-lah yang membawanya ke dalam kelahirannya ke dunia, ke dalam roda samsara. Maharsi Chanakya dalam Upanishad menuliskan : “mana eva manushyãnam kãranam bandha mokshayoh” -manas-lah yang menyebabkan manusia terpenjara dalam kehidupan [roda samsara], maupun sebaliknya : mencapai moksha atau pembebasan-.

Semua tindakan, kejadian dan sebab-akibat dalam hidup manusia dimulai dari pikirannya sendiri. Pikiran yang terang akan membuka jalan menuju penerangan, pikiran yang gelap akan menjerumuskan ke dalam kegelapan. Membersihkan pikiran adalah tugas dharma tersulit sekaligus tertinggi bagi para mahluk, yang hanya bisa dicapai melalui sadhana yang tekun dan disiplin. Read the rest of this post »

Memahami Pola Kerja Pikiran

Posted May 2, 2012 by Sigit Suryono
Categories: Rumah Dharma

Tags: , ,

Dva suparna sayuja sakhaya
samanam vrksam pari sasvajate
Tayor anyah pippalam svadu-atti
anasnan anyo abhi cakasiti

[Rig Veda 1.164.20]

Terjemahan :

Ada dua ekor burung yang dipersatukan dengan ikatan persahabatan, bertempat tinggal di atas pohon yang sama. Salah satu dari mereka menikmati buah matang yang manis, sedangkan yang lainnya memperhatikan tanpa menikmati buah-buahnya.

Interpretasi :

Ada dua type kesadaran [dua ekor burung] yang tinggal di tubuh yang sama [pohon yang sama]. Salah satu kesadaran ini atau “sang aku” menikmati kehidupan duniawi [buah matang yang manis] melalui badan dan pikiran [identik dengan produk dari prakriti atau realitas material, atau type kesadaran pada realitas material], sedangkan satu kesadaran yang lainnya hanya menjadi saksi [identik dengan purusha atau realitas absolut, atau type kesadaran pada realitas absolut]. Read the rest of this post »